Pagi ini aku duduk termangu di bangku taman belakang kampusku sambil menunggu Sifa menyelesaikan tugas Akuntannya. Saat gerombolan anak-anak muda sedang mengobrol lewat di depanku, pikiranku melayang kembali ke saat-saat aku masih di SMA, saat-saat di mana aku belum berjilbab.
Dulu aku tidak pernah menganggap penting kerudung. Aku dan beberapa temanku hanya memandang kerudung dengan sebelah mata, sehelai kain yang akan digunakan jika kita telah menjadi muslimah yang baik. Dan aku belum menjadi muslimah yang baik.
Padahal kakakku adalah seorang muslimah yang taat agama. Penampilannya selalu anggun dengan berbalut jilbab. Kadang aku iri dengan keanggunan yang terpancar dalam dirinya. Namun aku juga belum mau untuk menutup rambut panjang yang selama ini menjadi kebanggaanku. Karena menurutku dengan berjilbab akan membuatku tidak bebas berekspresi, ribet, panas dan segala hal negatif lainnya.
Namun nasihat kak Rani, satu-satunya kakak yang aku punya, kemarin membuat pikiranku terhadap jilbab berubah, “ Cobalah kau memakai jilbab. Dengan memakai jilbab kau akan terlihat semakin cantik dan kamu akan merasa terlindungi. Lagipula, jilbab bukan hanya untuk orang-orang yang sudah taat beragama kok. Kakak juga masih perlu banyak belajar. Dan lagipula, dengan mulai berjilbab, itu bisa menjadi langkah pertamamu untuk berubah jadi lebih baik. Lagipula, bukankah berjilbab salah satu kewajiban kita sebagai muslimah? Coba renungkan hal itu, Ren. Seberapa pentingkah kerudung bagimu, dan menurutmu apa arti sebuah kerudung,“
Aku mulai terpengaruh dengan nasihat kak Rani itu. Aku mulai sering membaca-baca buku tentang jilbab dan bertanya pada kakakku tentang jilbab. Walaupun aku belum berjilbab, namun kak Rani sudah senang dengan perubahanku ini. Dan aku senang melihat raut bahagia dalam wajah kak Rani.
Dan akhirnya setelah melalui berbagai pertimbangan, aku mulai berniat untuk berjilbab. Saat awal-awal aku berjilbab, aku merasa berat karena banyak ejekan dari teman-temanku yang walau mungkin hanya untuk bercanda, namun tak luput untuk meninggalkan segores luka di hatiku dan juga sikap teman-temanku jadi berubah menjadi kaku, seakan aku adalah orang yang asing. Semua itu membuatku depresi, namun support dari keluargaku menguatkanku.
Dan akhirnya, lambat laun teman-temanku mulai menerimaku dan sikap mereka kembali seperti biasanya. Aku senang sekali saat akhirnya mereka mau menerima perubahanku. Saat itu aku merasa Allah sedang memberikan sebuah anugerah padaku.
Saat aku mulai memakai jilbab ada banyak rasa baru yang menyusup ke dalam hatiku. Rasa nyaman yang tak dapat terlukiskan dengan kata-kata saat aku mengenakan jilbab untuk pertama kalinya, rasa tulus yang menenangkan ketika kak Rani memberikanku sebuah kerudung biru muda dengan bahan yang halus dan tidak membuat panas sebagai hadiah untuk perubahanku. Juga rasa bahagia ketika orang tuaku tersenyum penuh haru akan perubahanku.
Aku sangat berterima kasih pada Allah yang telah menyadarkanku dengan bantuan kak Rani sekaligus merubah pandanganku terhadap jilbab. Kini aku merasa enjoy untuk berjilbab kapanpun dan dimanapun.
“Karen!“ panggil Sifa membuyarkan lamunanku. Aku tersenyum padanya dan bangkit dari dudukku. “Maaf ya jadi lama nunggu, yuk berangkat,“ ajak Sifa seraya menggandeng tanganku. Aku tersenyum lalu menjawab, “Oke,“ dan melangkah meninggalkan bangku taman sambil tersenyum cerah. *****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar